RSS

Belajar Arsip dari Film

18 Sep

Anda maniak film?Ada banyak sisi positif bagi kita yang hobi sekali nonton film, baik di komputer masing-masing atau rela mengantri di bioskop. Penulis termasuk salah satu dari sekian juta (atau mungkin milyar) manusia yang menggemari film, meski tidak jarang sangat selektif dalam menentukan film apa yang akan dinikmati. Secara aspek penceritaan, penulis lebih menggemari film-film dengan basis sejarah atau dokumenter. Tentu saja karena film-film tersebut dapat dipastikan menggunakan arsip sebagai dasar dalam pembuatannya. Namun, tidak sedikit pula film, baik Asia maupun Hollywood, yang menggunakan arsip dalam tiap sceen atau adegannya. Penulis akan mengambil tiga film yang didalamnya mengetengahkan pentingnya peran arsip dalam memecahkan suatu kasus.

Film pertama adalah drama saeguk (drama berlatar sejarah kerajaan di Korea) “The Moon that Embrace The Sun”. Dalam beberapa episodenya diceritakan bahwa tokoh utama (Kaisar Hwon) menggeledah ruang sekretariat kerajaan yang menyimpan berbagai arsip negara. Kaisar beranggapan bahwa ada banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para pejabatnya dalam mengurus rakyat namun tidak banyak diketahui oleh Kaisar. Saat menggeledah, Kaisar menemukan banyak laporan terkait kondisi rakyat yang sebenarnya namun tidak segera disampaikan ke meja kerja kaisar. Padahal melalui laporan-laporan tersebut sang kaisar mengambil berbagai kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan secara tidak langsung menjadi media komunikasi antara rakyat dengan kaisarnya. Oleh karenanya, sang kaisar menganggap sekretariat kerajaan sebagai lubang yang sangat besar menganga yang mereduksi komunikasi antara pemerintah (birokrat) kerajaan dengan rakyat. Selain itu, sang kaisar juga berusaha membongkar kematian calon istrinya yang sangat misterius beberapa tahun yang lalu melalui arsip keputusan-keputusan kaisar sebelumnya. Meski terbilang “kurangajar” karena mengobrak-abrik ruang arsip kerajaan dan mengambil paksa beberapa arsip pada masa kaisar sebelumnya, namun kita dapat menangkap bahwa betapa pemahaman sang kaisar terhadap arsip terbilang cukup baik.

Film kedua adalah salah satu deretan film box office, Angels&Demonds. Film ini sebenarnya diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Dan Brown. Jika dalam novelnya kita harus mengimajinasikan bagaimana ruang simpan arsip rahasia milik Vatikan yang sedemikian canggih dan ketat, dalam filmnya, setidaknya kita dapat melihat langsung visualisasinya. Dalam beberapa adegan, kita dapat menyaksikan bagaimana Robert Langdon (tokoh utama) memperlakukan arsip Vatikan dengan sangat hati-hati. Ia menggunakan sarung tangan dan alat penjepit untuk membuka arsip karena jika tangan manusia sangat rentan akan tingkat keasaman tinggi sehingga dikhawatirkan mengganggu stabilitas arsip yang memang sudah sangat rapuh. Kita juga diperlihatkan bagaimana upaya negara Vatikan memperlakukan arsip dan manuskripnya dengan teknologi canggih. Selain itu juga tidak jauh berbeda dengan The Moon that Embrace The Sun, dalam Angels&Demonds ada salah satu tokoh yang dengan terpaksa merobek bagian tertentu dari sebuah arsip sebagai bahan penelusuran kunci akhir penyelesaian suatu kasus.

Film ketiga adalah film negeri sendiri berjudul Lentera Merah arahan sutradara Hanung Bramantyo. Lentera Merah termasuk film horor dengan sedikit aroma politik ’65. Tidak seperti film-film horor Indonesia yang tergolong tidak berkualitas, Lentera Merah dapat dikategorikan film horor yang cukup cerdas. Film yang menceritakan sebuah majalah kampus dengan terbitan tulisan yang cukup tajam ini pada suatu ketika tersandung masalah. Salah satu awak redaksinya mengangkat tulisan yang sangat sensitif di era ’65 hingga akhirnya ia dituduh sebagai mahasiswa kiri (komunis). Oleh karena berusaha melawan rekan-rekannya, ia dijebloskan dalam sebuah ruang sempit dan gelap hingga menemui ajalnya. Selang beberapa tahun kemudian, sang arwah redaksi menuntut balas ditegakkannya keadilan untuknya melalui anak-anak dari rekan-rekan redaksinya dahulu. Dalam suatu diksar bagi calon pengurus majalah, ditemui hal-hal aneh nan penuh misteri. Dimulai dari tuduhan plagiarism yang dilakukan salah satu redaksi. Tuduhan dilakukan oleh sang arwah yang menyaru menjadi mahasiswa calon pengurus yang mengikuti diksar. Tidak terima terhadap tuduhan tersebut, si redaktur tertuduh melakukan penyelidikan di ruang arsip majalah Lentera Merah di salah satu sudut perpustakaan perguruan tinggi. Dalam film tersebut diperlihatkan bagaimana ruang arsip dari suatu pers mahasiswa yang tertata cukup rapi, meski dalam beberapa sudut masih terlihat kurangnya perawatan terhadap arsip sehingga arsip-arsipnya terlihat kotor dan menguning. Setelah terjadi pembunuhan berantai ke beberapa redaksi majalah, beberapa calon redaksi pada akhirnya menemukan sebuah kejutan yang menjadi kunci untuk membongkar kemisteriusan pembunuhan berantai yang terjadi selama diksar. Dalam sebuah arsip personal pengurus majalah dengan angka tahun 1965, terlihat sosok yang mirip dan diduga sebagai salah satu dari calon awak redaksi majalah Lentera Merah yang sedang mengikuti diksar. Kecurigaan mereka akhirnya semakin mengerucut karena nama dan wajah yang terpampang dalam arsip personal sangat mirip. Jika saja, pers mahasiswa Lentera Merah tidak rapi bahkan abai dalam mengelola arsip para pengurusnya, peristiwa pembunuhan berantai yang dilakukan arwah sang redaktur tidak akan terpecahkan.

Ketiga film tersebut bisa jadi tidak dapat mewakili sepenuhnya dinamika dunia arsip. Namun, dengan melihat sisi lain film melalui kacamata arsip, kita diajak untuk memahami bahwa arsip tidak sekedar disimpan saja, tetapi ada banyak masalah yang bisa dipecahkan melalui arsip. Pemahaman awam tentang arsip yang sudah cukup baik, dapat lebih ditingkatkan melalui cara yang menarik dan santai, melalui film. Semoga bermanfaat…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2012 in Opini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: